Minggu, 19 Juni 2016

TRAGEDI SUKARNO : DARI KUDETA SAMPAI KEMATIANNYA

Assalamualaikum, Salam sejahtera.
Sumber : Buku “ Total BUNG KARNO “ “ Serpihan Sejarah yang Tercecer “, Roso Daras.


Soekarno yang lahir saat fajar menyingsing, diyakini ibundanya, Idayu, akan menjadi orang besar, tokoh penting, pejuang bagi rakyatnya. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Singa Podium, Peraih Gelar 26 Doktor Honoris Causa, dan serangkaian gelar lainnya.

Selain gelar-gelar dan julukan diatas, Bung Karno juga menerima gelar-glear adat berbagai suku di Tanah Air. Menilik itu semua sungguh sebuah pencapaian luar biasa, yang bahkan belum pernah ada yang menandingi. Tidak di Indonesia, barangkali tidak pula di atas jagat raya ini.
Perjalanan hidup serorang Soekarno begitu kontroversial. Ada kalanya ia dicerca. Ada kalanya pula ia ia dipuja. Bahkan dalam buku biografinya, ia mengatakan, “ Aku dipuja seperti dewa dan dikutuk seperti bandit ”. begitulah tokoh proklamator kita. Muda dipuja, saat jaya diagung-agungkan, tetapi di akhir hidupnya disingkirkan dan “ dibunuh pelan-pelan “ justru oleh lawan politiknya sesama anak bangsa.

Supersemar atau SP-11 ( Surat Perintah Sebelas Maret ) menjadi titik balik bagi putra sang fajar. MPRS mejatuhkan Sukarno dengan menolak Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara. Ia pun dicekal dan disingkirkan dari memorial bangsa Indonesia. Istilah yang terkenal adalah “ Desukarnoisasi “. Contoh nyata, ideology Pancasila yang dicetuskan Sukarno pada 1 Juni 1945, berusaha dilupakan. Diganti dengan proyek BP-7 melalui penataran-penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila ). Jangankan memperingati lahirnya Pancasila tiap 1 Juni, menyebut nama Sukarno saja seperti dianggap tabu.

Rezim Soeharto, rezim Orde Baru pengganti Orde Lama pun mengubur nama besar Sukarno berikut semua jasanya bagi bangsa dan Negara Indonesia. Para pengikutnya yang setia pun dikerangkeng, dijeblosakan ke penjara tanpa proses pengadilan. Ironisnya, anak bangsa yang termasuk kategori Sukarnois diidentikan sebagai penganut paham komunis, karenanya harus distempel “ Manusia Terlarang “ dengan berbagai kategori dan tingkatan.
Jasad Bunng Karno dimakamkan di Blitar oleh Soeharto dengan alasan supaya dekat dengan ibunya. Padahal, Sukarno sendiri berkehendak dimakamkan di antara bukit yang berombak, dibawahpohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar. Impian yang bahkan dituliskan dalam sebuah testmen.

Ya, permintaan terakhir Sukarno agar dikuburkan di halaman rumahnya di Batu Tulis, Bogor, ditolak Rezim Soeharto. Soeharto tentu tidak mau makam Sukarno di Bogor menjadi tempat yang populerdan banyak di kunjungi ( diziarahi ) rakyat pencintanya. Terlebih letak kota Bogor yang begitu dekat dengan Jakarta, pusat kekuasaan Soeharto yang didudukinya dengan bertindak keji terhadap Sukarno. Adalah buku “ TRAGEDI SUKARNO “, Dari Kudeta sampai Kematiannya, yang mengupas secara cukup tuntas sepengal hidup Sukarno sejak periode 1965 yang disebutkan sebagai “ Titik Balik ”, hingga “ Saat Fajar Tenggelam “ , sebuah episode terakhir kehidupan Sukarno. Buku yang di tulis resmi Reni Nuryanti dan diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta 2008 itu sekali lagi menjadi salah satu buku pelengkap di antara judul-judul lain dengan teme sejenis.
Dalam buku itu dikupas tentang masa-masa Bung Karno terusir dari Paviliun Istana Bogor. Hanya dengan berbekal barang seadanya, Bung Karno mengajak istrinya, Hartini, pindah ke Wisma Batu tulis, yang juga masih di wilayah Bogor. Ia Pindah Sebagai tahanan kota. Tak lama kemudian ia pun tidak lagi diperkenankan tinggal di Wisma Batu Tulis, dan harus pindah ke Wisma Yaso,  dalam penjagaan dan pengawasan aparat keamanan yang lebih ketat. Inilah periode sakit sekaligus periode saat ia “ dikerangkeng “.

Jangkan beraktivitas politik, menemui tamu pun dilarang. Bahkan, anggota keluarganyasendiri dibatasi untuk bertemu Sukarno. Catatan medis Sukarno, serta pendukung tulisan lain yang menunjuk pada referensi yang lebih kompletmenyebutkan bahwa penanganan terhadap kesehatan Bung Karno begitu ala kadarnya, bahkan cenderung serampanga.

Pendeknya, kini jasad Bung Karno sudah kembali ke asalanya. Dari tanah kembali ke tanah. Pelan tapi pasti, bersama gulirnya sang kala, manikam Sukarno kembali bersinar. Ajaran-Ajarannya kembali digali. Dan persis seperti ucapan yang pernah meluncur dari mulut Sukarno, “ Sejarah yang akan membersihakn namaku “.